Aurelie Moeremans Akui 'Broken Strings' jadi Cara Ampuh Berdamai dengan Masa Lalu
14 January 2026, 14:51 WIB
Aurelie Moeremans bercerita soal luka dan proses pulih lewat buku Broken Strings. Kisah jujur yang menyentuh dan penuh makna. Baca selengkapnya!
Kapanlagi.com - Bagi Aurelie Moeremans, masa lalu bukanlah hal yang mudah untuk dibicarakan. Namun, melalui buku terbarunya yang bertajuk Broken Strings, ia mencoba untuk membuka kembali lembaran lama yang selama ini tersimpan rapi. Menulis ternyata menjadi terapi tersendiri baginya untuk menyembuhkan luka yang belum kering.
Aurelie mengungkapkan bahwa proses menulis buku ini bukanlah perjalanan yang singkat. Ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan keberanian hingga akhirnya benar-benar menuangkannya dalam bentuk tulisan yang jujur dan menyentuh hati.
Baca berita lain tentang Aurelie Moeremans di Liputan6.com, yuk! Kalau bukan sekarang, KapanLagi?
(kpl/far/rsp)
Tujuan Utama Menulis Buku
Aktris kelahiran Belgia ini menegaskan bahwa tujuan utamanya menulis bukanlah untuk membalas dendam kepada pihak mana pun. Sebaliknya, ini adalah langkah besar baginya untuk menerima segala sesuatu yang telah terjadi sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Belajar Berdamai dengan Masa Lalu
"Iya, sangat. Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku. Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah," tutur Aurelie Moeremans saat dihubungi, Rabu (14/1/2026).
Berhenti Salahkan Diri Sendiri
Selama proses pengerjaan, Aurelie menyadari bahwa banyak memori yang kembali muncul ke permukaan. Hal ini membuatnya semakin mengerti tentang apa yang sebenarnya ia alami selama ini, sehingga ia bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian di masa lalu.
"Menulis membuat aku berhenti menyalahkan diri sendiri. Jadi buku ini bukan bukti bahwa aku sudah sembuh, tapi bukti bahwa aku berani menghadapi lukanya," katanya.
Perspektif Baru Sebagai Perempuan
Ia juga menceritakan bahwa menulis buku ini memberikan perspektif baru baginya sebagai seorang perempuan. Proses ini menuntut kejujuran yang luar biasa, sehingga setiap kata yang tertulis benar-benar berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Bagian dari Proses Pulih
"Menulis Broken Strings itu bukan karena aku sudah pulih sepenuhnya lalu ingin menunjukkan ke publik kalau aku baik baik saja. Justru kebalikannya," katanya.
"Proses menulisnya adalah bagian dari proses pulih itu sendiri. Ada banyak hal yang selama bertahun tahun aku simpan rapat, aku anggap sudah 'selesai', tapi ternyata masih tinggal di tubuh dan pikiranku," sambungnya.
Harapan untuk Para Pembaca
Melalui kejujuran tersebut, Aurelie berharap pembacanya juga bisa merasakan semangat yang sama untuk berani menghadapi trauma masing-masing. Baginya, berdamai dengan diri sendiri adalah kunci utama untuk melangkah maju ke masa depan yang lebih cerah.
Teman bagi Korban dengan Trauma
"Aku menulis sebagai bentuk kejujuran ke diri sendiri. Dulu, waktu aku masih kecil dan mencoba bersuara, responsnya justru menyakitkan. Jadi ada trauma untuk bercerita. Tapi seiring waktu, aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi teman buat mereka," pungkas Aurelie Moeremans.