Fariz RM Tolak Jabatan di AKSI, Tegaskan Pentingnya Izin dalam Hak Cipta

06 March 2026, 16:46 WIB
Fariz RM Tolak Jabatan di AKSI, Tegaskan Pentingnya Izin dalam Hak Cipta

Polemik mengenai pencatutan nama Fariz RM sebagai Dewan Pembina Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) membuka diskusi yang lebih luas mengenai etika dan hak cipta. Setelah berdiskusi panjang dengan Deolipa Yumara selaku kuasa hukumnya, Fariz RM memutuskan untuk angkat bicara dan meluruskan posisinya serta pandangannya mengenai hak cipta.

Dalam klarifikasinya, Fariz menyoroti inti permasalahan yang sering terjadi di industri musik, yaitu penggunaan karya tanpa izin. Ia menekankan bahwa hak cipta adalah hak mutlak pencipta yang harus dihormati oleh siapa pun, termasuk dalam konteks organisasi.

"Dalam pada inti permasalahannya itu terkait pada penggunaan karya cipta seseorang oleh orang lain. Saya sebagai pemusik, pencipta lagu meyakini bahwa kodratinya, sejatinya sebuah karya cipta itu mutlak, sekali lagi, mutlak milik dari si penciptanya sendiri yang tidak bisa diperlakukan secara semena-mena tanpa izin untuk dipergunakan demi kepentingan apapun oleh pihak lain," ucapnya saat dihubungi awak media lewat sambungan telepon, Jumat (06/03/2026).

Baca berita Fariz RM lainnya di Liputan6.com.

Pernyataan ini sejalan dengan isu yang kerap diperjuangkan oleh AKSI di bawah komando Ahmad Dhani. Namun, ironisnya, nama Fariz justru dicantumkan dalam struktur organisasi tanpa konfirmasi final darinya. Fariz mengingatkan bahwa izin bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghargaan tertinggi terhadap sebuah karya dan penciptanya.

"Izin itu selalu perlu. Izin adalah bentuk etikanya, bentuk respek, bentuk rasa hormat kita kepada seseorang. Ingat itu, bahwa hidup bangsa yang berhasil berfondasi pada respek, pada rasa hormat antar sesama," tegasnya.

Fariz juga menyinggung soal imbalan materi yang seringkali disalahartikan sebagai pengganti izin. Menurutnya, izin dan uang adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa saja mengizinkan karyanya dipakai tanpa bayaran, atau sebaliknya, menolak meski dibayar mahal, jika tidak ada kesepakatan di awal.

"Apalagi hanya disandingkan dengan ‘nggak papa, asal bayar'. Oh tidak. Saya tidak sependapat. Karena izin tidak sama dengan uang. Seorang pencipta lagu seperti saya, belum tentu mengizinkan karya saya untuk dinyanyikan oleh orang lain," ungkap pelantun Barcelona ini.

Terkait jabatannya yang sempat diumumkan, Fariz kembali menegaskan bahwa ia hanya menyetujui hasil konsensus kongres, bukan menerima jabatan struktural. Ia berharap klarifikasinya ini bisa dipahami sebagai upaya meluruskan kesalahpahaman semata, bukan untuk memicu konflik. "Jadi sekali lagi, mungkin kejadian ini adalah kejadian salah paham saja. Dan jangan diharapkan untuk tidak menjadi polemik yang berkepanjangan," harapnya.

Fariz menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh pelaku industri musik untuk saling menghormati dan terus berkarya. Ia ingin fokus pada peran utamanya sebagai musisi dan pencipta lagu, serta memberikan dukungan moral bagi kemajuan musik Indonesia tanpa harus terikat dalam struktur organisasi yang dirasanya belum sanggup ia emban.

"Saya Fariz RM, saya pencipta lagu, saya pemusik, saya menghormati karya musik orang lain. Saya tidak akan pernah mempergunakan karya orang lain tanpa meminta izin kepada yang bersangkutan. Maju terus musik Indonesia, semangat terus berkarya buat teman-teman seprofesi," pungkasnya.

Sumber : KapanLagi.com